Bantul memang salah satu pusat industri batik di Yogyakarta, dan  Imogiri merupakan salah satu sentra terbesarnya. Beberapa daerah seperti Giriloyo, Ketandan dan beberapa daerah lain hingga kini masih dengan mudah Anda temukan pusat produksi batik dalam skala besar dan kecil.

Museum Batik Ciptowening, Menutur Sejarah Batik Khas Jogja
Museum Batik Ciptowening, Menutur Sejarah Batik Khas Jogja (Photo by, jogjapages.com)

Tak heran kalau di kawasan Imogiri berdiri sebuah museum batik yang menyimpan ragam corak batik khas Yogya dari masa ke masa, namanya museum batik Ciptowening. Museum batik ini juga tak kalah lengkap dengan museum batik yang berdiri di jalan Sutomo dan sempat pula kami bahas sebelumnya dalam artikel kami yang lain.

Museum batik Ciptowening memamerkan ratusan kain batik dari berbagai corak yang khusus diproduksi dari kawasan Bantul dan sekitaran Jogja. Dari sekian banyak koleksi, sekitar 200 di antaranya adalah koleksi tua dengan corak batik kuno yang kini sudah mulai langka seperti corak lereng, sidomukti klasik, wahyu temurun dan beberapa corak klasik lain.

Juga terdapat beberapa koleksi khusus batik khas dari Imogiri yang dikenal dengan corak Kelengan. Corak batik ini hanya diproduksi di Imogiri dengan memanfaatkan jenis rumput rumputan khas dari Imogiri yang menghasilkan warna ungu nila yang unik. Konon di masa lalu, corak dan warna unik Kelengan ini hanya bisa dijumpai dari batik produksi Giriloyo Imogiri.

Yang menjadi kekayaan dari museum batik Ciptowening adalah koleksi batik yan berusia ratusan tahun. Beberapa adalah koleksi sumbangan dari keraton juga beberapa merupakan koleksi pribadi dari Paku Alaman VII dan VIII.

Sebenarnya museum batik Ciptowening ini sudah berdiri pada tahun 2004, namun sempat mengalami kerusakan pada tahun 2006 ketika terjadi gempa. Pada tahun 2007, museum ini kembali dibuka atas bantuan dari GKR Hemas, malah peresmian pembukaan kembali museum ini dilakukan langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Bagaimana cara mencapai museum ini? Sangat mudah karena lokasinya tergolong mudah diakses. Hanya sektar 200 meteran dari pasar Imogiri dan hanya berseberangan dari bekas terminal lama Imogiri. Dari luar bangunannya tidak terlihat megah, malah terkesan seperti rumah pribadi yang kuno. Beruntung ada papan nama yang terpampang di depan museum sebagai penanda.

Anda baru merasakan aura klasik dari museum ini begitu memasuki kawasan dalam museum. Area entry memberi Ada sambutan nuansa jawa klasik dengan sepeda ontel terpajang di depan lengkap dengan pepohonan ala ningrat seperti kepel, sawo kecik dan nangka.

Sebuah Joglo tua berusia ratusan tahun berdiri  di depan Anda mendatangkan aura heritage yang elegan, sebagai ruang pamer batik utama bersama beberapa ruang pamer lain pada sisi dalam. Joglo ini menjadi bangunan utama dengan dinding kayu berikut tiang-tiang soko guru yang tampak tua dan klasik justru memberi kesan gagah pada kasat bangunan.

Itu sebabnya museum Batik Ciptowening milik Linda Heri Diyana Bondan ini kerap menjadi venue beberapa sesi pemotretan dan pembuatan film sejarah dan menjadi salah satu joglo terbaik yang masih terjaga utuh di kota DIY menurut penilaian lembaga budaya keraton Yogyakarta.

Baca juga : Ini dia Pesona Pantai Parang Tritis dari Goa Jepang Yang Mempesona

searah berdiri museum batik citowening

Ada pertanyaan atau komentar?