Gedung Agung Yogyakarta – Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta merupakan salah satu saksi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Mulai dari dibangunnya, hingga kejadian-kejadian yang pernah terjadi di dalamnya, menentukan masa depan bangsa Indonesia.

Gedung Agung Yogyakarta Saksi Sejarah Penentuan Masa Depan Bangsa
Gedung Agung Yogyakarta Saksi Sejarah Penentuan Masa Depan Bangsa (Photo by, instagram.com/artweera)

Kini, Gedung Agung Jogja masih berdiri kokoh, dan siap menerima tamu baik itu pejabat Negara maupun warga sipil, untuk berkunjung dan masuk di dalamnya. Sekaligus juga, menjadi daya tarik tersendiri tempat wisata sekitar Malioboro yang wajib dikunjungi.

Untuk mengetahui, mengenai sejarah serta apa yang pernah terjadi didalamnya, berikut ini pembahasan singkatnya;

Sejarah Gedung Agung Yogyakarta

Dibangun atas permintaan Residen (Pejabat Diplomatik Britania) untuk Yogyakarta ke-18 yaitu Anthony Hendriks Smissaerat (1823-1825). Yang menginginkan dibangunnya sebuah gedung untuk residen-residen Belanda.

Gedung Agung sempat berhenti dalam pembangunannya karena perang Diponegoro atau Perang Jawa pada tahun 1825-1830. Kemudian dilanjutkan setelah perang berakhir dan baru selesai pembangunan 1832.

Namun, karena gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada 10 Juni 1867, gedung tersebut ambruk.

Kemudian dibangun kembali dan baru selesai pada tahun 1869 dan berdiri hingga sekarang sebagai kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta atau yang sekarang disebut Gedung Agung.

Meningkatnya status wilayah Yogyakarta menjadi Provinsi dan Gubernur menjadi penguasa tertinggi, dengan begitu gedung utama menjadi kediaman Gubernur Belanda di Yogyakarta sampai jatuh ketangan Jepang.

Setelah perang kemerdekaan, pada 6 Januari 1946 Yogyakarta menjadi ibu kota baru Republik Indonesia, dan Gedung Agung menjadi tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya.

Namun, Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, memaksa Presiden Soekarno dan Bung Hatta, serta pejabat tinggi lainnya diasingkan di luar pulau Jawa. Demi membalas Agresi Militer Belanda tersebut, TNI berhasil menyerang Yogyakarta, dan menduduki Ibu Kota selama enam jam dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Baru setelah keberhasilan TNI tersebut, Presiden Soekarno kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Setelah itu, sejak 28 Desember 1949 Ibu Kota kembali berpindah ke Jakarta, dan Gedung Agung tidak lagi menjadi rumah tinggal sehari-hari Presiden.

Fungsi Gedung Agung Yogyakarta

Sejak pertama kali dibangun, Gedung ini di fungsikan sebagai rumah tinggal pemimpin atau pejabat Residen. Sekaligus sebagai bentuk status sosial, sosok seorang pemimpin yang tinggal di sebuah Istana.

Fungsi tersebut melekat hingga kini, baik setelah perang kemerdekaan, maupun siapa yang tinggal di dalamnya adalah seorang petinggi atau pemangku Jabatan tertinggi.

Alamat Gedung Agung Yogyakarta

Lokasinya dekat dengan Titik Nol Kilometer atau tepat di depan Benteng Vredeburg, atau lebih tepatnya berada di ujung selatan Jalan Ahmad Yani. Dan berada di wilayah Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Oke Sob, demikianlah yang dapat kami sampaikan, sampai jumpa di lokasi wisata, mengingatkan selalu untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga suasana tetap kondusif. enjoy sobatJogja.com ~Maturnuwun

Ada pertanyaan atau komentar?