Keris Yogyakarta, Sebagai Sebuah Symbol Dan Kekuasaan
Keris Yogyakarta, Sebagai Sebuah Symbol Dan Kekuasaan

Keris di zaman Kerajaan Mataram Kuno memang bukan saja sekedar sebuah senjata biasa saja, melainkan sebuah penanda atau symbol seseorang. Kini Keris telah bertransformasi kegunaanya, jika pada masanya Keris Yogyakarta sebagai senjata untuk melindungi diri. Namun kini, menjadi sebuah souvenir sekaligus juga sebagai benda koleksi.

Menarik sejarah kebelakang, kegunaan Keris di tanah Jawa pada masa kerajaan memang sangatlah penting. Bahkan seorang peneliti asal Portugal pada abad ke-16 yang sempat menyambangi pulau Jawa pada masa itu, menulis di bukunya. Bahwa setiap laki – laki di Jawa masa itu memiliki sebuah Keris yang di letakan di sabuknya.

Lalu untuk apa Keris yang dibawa itu sebenarnya ? Secara rasional pastinya kita bisa menjawab, sebagai alat untuk melindungi diri dari serangan musuh. Tidak dipungkiri memang pada masa Kerajaan jatuhnya korban karena perang memang selalu terjadi. Hal ini tidak lepas dari sikap manusia yang berkuasa dan akan tidak puas dengan kekuasaanya sekarang lalu menindas yang lain.

Namun perlu anda ketahui, Perang atau pertarungan mem-perebutkan kekuasaan merupakan jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah pada masa itu. Meski begitu para pendahulu kita pada akhirnya belajar, jika setiap permasalahan tidak harus diselesaikan dengan perang. Hingga sampai pada masa dimana keris sebagai sebuah symbol sekaligus juga keyakinan.

Di Nusantara Keris berkembang dipengaruhi Kerajaan Majapahit seperti di Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan bagian pesisir, sebagian di Sulawesi, Semenanjung Malaya, selatan Thailand, dan selatan Filipina terutama di Mindanao. Disetiap daerah pembuatan Keris memiliki ciri khas berbeda – beda sekaligus fungsi dari Keris tersebut.

UNESCO telah mencatat Keris Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia pada tahun 2005. Asal – usul Keris ini bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia memang masih belum terdefinisikan. Sebab berdasarkan penyebutan kata “Keris” sudah ada pada sebuah Prasasti Karangtengah (824 M) yang terbuat abad ke-9 Masehi.

Menurut para peneliti prototype awal mula Keris ini bernama Keris Buda dan Keris Sajen, yang bentuknya masih lurus dan pendek, yaitu pada masa pra-Singasari. Sementara bentuk Keris Yogyakarta yang kita kenal sekarang ini, diperkirakan mulai ada sejah zaman Majapahit pada abad ke-14. Namun, berdasarkan relief Keris Candi Bahal (Sumatera Utara) dan Keris di Jawa Timur, diperkirakan sudah ada pada abad ke-10 Masehi.

Banyak cerita sejarah yang mengaitkan para pembuat Keris, seperti Mpu Gandring, Pusaka Setan Kober, Kyai Sangkelat, Pusaka Nagasasra Sabuk Inten, Kyai Carubuk, dan Kyai Condong Campur. Menunjukan bahwa pemilik Keris dan pembuatnya memiliki satu kesatuan mengenai identitas dari sebuah Keris yang memiliki nilai budaya tinggi.

Meski di Indonesia memiliki budaya Keris Yogyakarta yang berbeda dengan ciri khas unik di setiap daerah. Keris tetap eksis dan sebagai sebuah karya seni bukan sekedar benda biasa, yang tetap dijaga dan dilestarikan. Karena sekarang, Keris telah menjadi sebuah benda mewah layaknya Samurai di Jepang.

Memang tidak dipungkuri jika setiap detail pada Keris memiliki nilai artistic yang mengagumkan. Bahkan para penggemarnya sampai di seluruh dunia, seperti di Eropa yang mencintai karya seni handmade murni. Dan kini Keris telah menjadi identitas Bangsa Indonesia, jadi orang diseluruh dunia mengatakan Keris From Indonesia.

Photo by, archipelagosandata.com

Penelusuran terkait keris jogja, keris yogyakarta, filosofi keris jogja, keris jogjakarta, gambar keris yogyakarta, ciri ciri keris jogja, penjelasan senjata tradisional yogyakarta, Pemanfaatan Dari Senjata Tradisional Keris Yogyakrta, gambar keris jogja, makna keris jogja, keris khas jogjakarta, ciri ciri keris yogya, diskripsi brntuk keris, filosofi keris adat Jogjakarta, filosofi keris branggah.

2 KOMENTAR

Ada pertanyaan atau komentar?